Dismenorrea

Latar Belakang

Menstruasi merupakan bagian dari proses reguler yang mempersiapkan tubuh wanita setiap bulanya untuk kehamilan (Keikos, 2007). Menstruasi menurut Prawirohardjo (1999) adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai dengan pelepasan (deskuamasi) endometrium. Walaupun menstruasi datang setiap bulan pada usia reproduksi, banyak wanita yang mengalami ketidaknyamanan fisik atau merasa tersiksa saat menjelang atau selama haid berlangsung (Blogdokter, 2007).

Salah satu ketidaknyamanan fisik saat menstruasi yaitu dismenore.
Dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi (Imcw, 2007). Dismenore dapat disertai dengan rasa mual, muntah, diare dan kram, sakit seperti kolik diperut. Beberapa wanita bahkan pingsan dan mabok, keadaan ini muncul cukup hebat sehingga menyebabkan penderita mengalami “kelumpuhan” aktivitas untuk sementara (Youngson, 2002).

Kelainan yang selalu timbul tidak mungkin menyebabkan kematian seseorang, tetapi hal ini akan sangat menggangu syarafnya, kadang-kadang sampai mengalami penderitaan yang menahun dan kronis (Hartati, 1990).
Penyebab dismenore bermacam-macam yaitu karena suatu proses penyakit (misalnya radang panggul), endometriosis, tumor, atau kelainan letak uterus, selaput dara atau vagina tidak berlubang, dan stres atau kecemasan yang belebihan, tetapi penyebab yang tersering diduga karena terjadinya ketidakseimbangan hormonal dan tidak ada hubungan dengan organ reproduksi.

Dismenore banyak dialami oleh para wanita. Di Amerika Serikat diperkirakan hampir 90% wanita mengalami dismenore, dan 10-15% diantaranya mengalami dismenore berat, yang menyebabkan mereka tidak mampu melakukan kegiatan apapun (Jurnal Occupation And Environmental Medicine, 2008).

Telah diperkirakan bahwa lebih dari 140 juta jam kerja yang hilang setiap tahunnya di Amerika Serikat karena dismenore primer (Schwarz, 1989).
Di Indonesia angka kejadian dismenore sebesar 64.25 % yang terdiri dari 54,89% dismenore primer dan 9,36 % dismenore sekunder (Info sehat, 2008). Di Surabaya di dapatkan 1,07 %-1,31 % dari jumlah penderita dismenore datang kebagian kebidanan (Harunriyanto, 2008).

Dismenore didefinisikan sebagai aliran menstruasi sulit atau nyeri haid.Istilah dismenore berasal dari kata Yunani,dis yang berarti sulit / menyakitkan / tidak normal, meno, berarti bulan, dan rrhea, yang berarti aliran.

Dismenore (atau dismenorea) adalah kondisi medis ginekologi rahim ditandai dengan nyeri parah selama menstruasi. Sementara sebagian besar wanita mengalami rasa sakit selama menstruasi, dismenore didiagnosis ketika sakit sangat parah sebagai untuk membatasi aktivitas normal, atau membutuhkan pengobatan.

Dismenore dapat menampilkan berbagai jenis rasa sakit, termasuk tajam, berdenyut, membosankan, memuakkan, membakar, atau linu. Dismenore bisa mendahului haid oleh beberapa hari atau mungkin menyertainya, dan biasanya mereda sebagai menstruasi taper off. Dismenore dapat hidup berdampingan dengan kehilangan darah yang terlalu berat, yang dikenal sebagai menorrhagia

Dismenore adalah salah satu keluhan ginekologi yang paling umum pada wanita muda yang hadir untuk clinicians.Manajemen optimal gejala ini tergantung pada pemahaman tentang penyebab yang mendasari. Dismenore diklasifikasikan sebagai primer (hebat) atau sekunder (congestive) .

Dismenorrea primer (esensial,instrinsik,idiopatik),tidak berhubungan dengan kelainan ginekologik didefinisikan sebagai nyeri haid tidak berhubungan dengan patologi pelvis makroskopis (yaitu, tidak adanya penyakit panggul). Itu biasanya terjadi dalam beberapa tahun pertama setelah menarche.

Dismenorrea sekunder (ekstrinsik, yang diperoleh, aquired) didefinisikan sebagai nyeri haid yang disebabkan oleh kelainan ginekologik(salpingitis, kronika, endometriosis, adenomiosis uteri, stenosis servisis uteri,dan lain-lain),juga akibat dari anatomi dan / atau patologi pelvis makroskopis, 3,5 seperti yang terlihat pada wanita dengan endometriosis atau penyakit radang panggul kronis. Kondisi ini paling sering ditemukan pada wanita berusia 30-45 tahun.

Pembagian ini tidak seberapa tajam batasnya oleh karena disminorrea yang pada mulanya disangka primer, kadang-kadang setelah diteliti lebih lanjut memperlihatkan kelainan organic.jadi, termasuk disminorrea sekunder.

Pengertian Dismenorrea

Dismenorrea atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda maupun tua pergi ke bidan maupun dokter untuk konsultasi dan pengobatan.karena gangguan ini sifatnya subyektif,berat atau intensitasnya sukar dinilai.Walaupun frekuensi dismenorrea cukup tinggi dan penyakit ini sudah lama dikenal, namun sampai sekarang patogenesisnya belum dapat dipecahkan dengan memuaskan.

Adapun Gejala Dismenorrea (nyeri menstruasi)
yakni dapat menyebabkan nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri dirasakan sebagai kram yang hilang-timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus menerus ada.
Biasanya nyeri mulai timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan menghilang.
Dismenore juga sering disertai oleh sakit kepala, mual, sembelit atau diare dan sering berkemih.

Gejala utama adalah nyeri dismenore terkonsentrasi di perut bagian bawah, di

daerah umbilikalis atau daerah suprapubik perut. Hal ini juga sering dirasakan di perut kanan atau kiri. Hal itu dapat memancarkan ke paha dan punggung bawah. Gejala lain mungkin termasuk mual dan muntah, diare atau sembelit, sakit kepala, pusing, disorientasi, hipersensitivitas terhadap suara, cahaya, bau dan sentuhan, pingsan, dan kelelahan.

Gejala dismenore sering dimulai segera setelah ovulasi dan dapat berlangsung sampai akhir menstruasi. Ini karena dismenore sering dikaitkan dengan perubahan kadar hormon dalam tubuh yang terjadi dengan ovulasi. Penggunaan beberapa jenis pil KB dapat mencegah gejala dismenore, karena pil KB berhenti dari terjadi ovulasipai terjadi muntah.

Selama siklus menstruasi wanita, endometrium menebal dalam persiapan untuk kehamilan potensial. Setelah ovulasi, jika sel telur tidak dibuahi dan tidak ada kehamilan,molekul senyawa yang disebut prostaglandin dilepaskan selama menstruasi, karena penghancuran sel endometrium, dan pelepasan resultan isinya. Prostaglandin dan mediator inflamasi lainnya dalam rahim menyebabkan uterus untuk kontrak. Zat tersebut diduga menjadi faktor utama dalam dismenore primer. Ketika kontrak otot rahim, mereka membatasi pasokan darah ke jaringan dari endometrium, yang, pada gilirannya, rusak dan mati. Ini kontraksi rahim terus karena mereka memeras jaringan, tua endometrium mati melalui leher rahim dan keluar dari tubuh melalui vagina. Kontraksi ini, dan hasil sementara kekurangan oksigen ke jaringan di dekatnya, yang bertanggung jawab atas rasa sakit atau “kram” berpengalaman selama menstruasi.

Oleh karena hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak di perut bagian bawah sebelum dan selama haid dan sering kali rasa mual,maka istilah dismenorrea hanya dipakai jika nyeri haid sedemikian hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cara hidupnya sehari-hari,untuk beberapa jam atau beberapa hari.

Macam-macam Dismenorrea

Dismenorrea di bagi atas:

  1. Dismenorrea primer
  2. Dismenorrea sekunder

Dismenorrea primer

Dismenorrea primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada alat-alat genital yang nyata. Dismenorrea primer terjadi beberapa waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih,oleh karena siklus-siklus haid pada bulan-bulan pertama setelah menarche umumnya berjenis anovulatoar atau bersam-sama dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam, walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari. Sifat ras nyeri ialah kejang berjangkit-jangkit, biasanya terbatas pada perut bawah, tetapi dapat menyebar ke daerah pinggang dan paha.Bersamaan dengan rasa nyeri dapat dijumpai ras mual, muntah, sakit kepal, diarea, iritabilitas, dan sebagainya.

Disebut dismenore primer jika tidak ditemukan penyebab yang mendasarinya dan dismenore sekunder jika penyebabnya adalah kelainan kandungan.

Dismenore primer sering terjadi, kemungkinan lebih dari 50% wanita mengalaminya dan 15% diantaranya mengalami nyeri pada saat menstruasi yang hebat.
Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun setelah menstruasi pertama.

Nyeri pada dismenore primer diduga berasal dari kontraksi rahim yang dirangsang oleh prostaglandin.
Nyeri dirasakan semakin hebat ketika bekuan atau potongan jaringan dari lapisan rahim melewati serviks (leher rahim), terutama jika saluran serviksnya sempit.  Faktor lainnya yang bisa memperburuk dismenore adalah:

– rahim yang menghadap ke belakang (retroversi)

– kurang berolah raga

– stres psikis atau stres sosial.

Pertambahan umur dan kehamilan akan menyebabkan menghilangnya dismenore primer. Hal ini diduga terjadi karena adanya kemunduran saraf rahim akibat penuaan dan hilangnya sebagian saraf pada akhir kehamilan

Perbedaan beratnya nyeri saat menstruasi tergantung kepada kadar prostaglandin. Wanita yang mengalami dismenore/nyeri menstruasi memiliki kadar prostaglandin yang 5-13 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalami dismenore. Dismenore sangat mirip dengan nyeri yang dirasakan oleh wanita hamil yang mendapatkan suntikan prostaglandin untuk merangsang persalinan.

Dismenore primer
bukti saat ini menunjukkan bahwa patogenesis dismenore primer adalah karena prostaglandin F2alpha (PGF2alpha), suatu stimulan miometrium kuat dan vasokonstriktor, di endometrium.10 sekretorik Respon terhadap inhibitor prostaglandin pada pasien dengan dismenore mendukung pernyataan bahwa dismenore adalah dimediasi prostaglandin. Substansial bukti atribut dismenore untuk kontraksi rahim yang berkepanjangan dan menurunnya aliran darah ke miometrium.

Peningkatan kadar prostaglandin ditemukan dalam cairan endometrium wanita dengan dismenore dan berkorelasi dengan baik dan meningkat 3 kali lipat di prostaglandin endometrium terjadi dari fase folikuler pada fase luteal, dengan peningkatan lebih lanjut terjadi selama menstruasi.Peningkatan prostaglandin pada endometrium berikut penurunan progesteron dalam hasil akhir fase luteal dalam nada miometrium uterus meningkat dan berlebihan kontaksi leukotrin yang telah dirumuskan untuk meningkatkan sensitivitas dari serat nyeri di dalam rahim. Jumlah signifikan leukotrin telah ditunjukkan dalam endometrium wanita dengan dismenore primer yang tidak menanggapi pengobatan dengan prostaglandin antagonis.

vasopresin hormon hipofisis posterior mungkin terlibat dalam hipersensitivitas miometrium, mengurangi aliran darah rahim, dan nyeri di dismenorrea primer, peran Vasopresin dalam endometrium mungkin terkait dengan sintesis dan pelepasan prostaglandin.

Dismenore primer juga disebabkan faktor perilaku dan psikologis. Meskipun faktor-faktor ini belum meyakinkan dibuktikan penyebab, mereka harus dipertimbangkan jika pengobatan medis gagal.

Disminorrea sekunder

Dismenore sekunder adalah adalah nyeri haid yang disebabkan oleh patologi pelvis secara anatomis atau makroskopis dan terutama terjadi pada wanita berusia 30-45 tahun (Widjanarko, 2006). Pengertian yang lain menyebutkan definisi dismenore sekunder sebagai nyeri yang muncul saat menstruasi namun disebabkan oleh adanya penyakit lain. Penyakit lain yang sering menyebabkan dismenore sekunder anatara lain endometriosis, fibroid uterin, adenomyosis uterin, dan inflamasi pelvis kronis.

Dismenore sekunder disebabkan oleh kondisi iatrogenik dan patologis yang beraksi di uterus, tuba falopi, ovarium, atau pelvis peritoneum. Secara umum, nyeri datang ketika terjadi proses yang mengubah tekanan di dalam atau di sekitar pelvis, perubahan atau terbatasnya aliran darah, atau karena iritasi peritoneum pelvis. Proses ini berkombinasi dengan fisiologi normal dari menstruasi sehingga menimbulkan ketidaknyamanan. Ketika gejala ini terjadi pada saat menstruasi, proses ini menjadi sumber rasa nyeri. Penyebab dismenore sekunder dapat diklasifikasikan dalam 2 golongan, yaitu penyebab intrauterin dan penyebab ekstrauterin (Smith, 2003).

Dismenore sekunder didiagnosis bila gejala yang timbul dari penyakit yang mendasarinya, gangguan, atau kelainan struktural baik di dalam atau di luar rahim.dismenore sekunder adalah  dismenore yang terkait dengan kondisi yang ada.

Dari referensi lain juga sama ditemukan, Penyebab paling umum dari dismenore sekunder adalah endometriosis. Penyebab lainnya termasuk leiomyoma, adenomiosis, kista ovarium, dan Kemacetan panggul. Kehadiran IUD tembaga juga dapat menyebabkan dismenore. Dan juga pada pasien dengan adenomiosis.

Ada juga yang menyebutkan bahwa sejumlah faktor dapat terlibat dalam patogenesis dismenore sekunder. The patologi panggul berikut ini dapat menyebabkan kondisi:

* Endometriosis
* Penyakit radang panggul
* Ovarium kista dan tumor
* Cervical stenosis atau oklusi
* Adenomiosis
* Fibroid
* Uterine polip
* Intrauterin adhesi
* Malformasi kongenital (misalnya, bicornate rahim, rahim subseptate)
* Intrauterin alat kontrasepsi
* Septum vagina Transverse, sindroma kongesti pelvis

Tanda dan gejala pada dismenore sekunder dan nyeri pelvis dapat beragam dan banyak. Umumnya gejala tersebut sesuai dengan penyebabnya. Keluhan yang biasa muncul adalah gejala pada gastrointestinal, kesulitan berkemih, dan masalah pada punggung. Keluhan menstruasi berat yang disertai nyeri menandakan adanya perubahan kondisi uterus seperti adenomyosis, myomas, atau polip. Keluhan nyeri pelvis yang berat atau perubahan kontur abdomen meningkatkan neoplasi intra-abdominal. Demam, menggigil, dan malaise menandakan adanya proses inflamasi. Keluhan yang menyertai infertilitas menandakan kemungkinan terjadinya endometriosis. Ketika pasien mengeluhkan bahwa gejala mucul setelah penggunaan IUD, tidak tepat jika mengatakan bahwa penggunaan IUD sebagai penyebabnya (Smith, 2003).

Faftor yang mempengaruhi dismenorrea

Banyak teori telah dikemukakan untuk menerangkan penyebab dismenorrea primer, tetapi patofisiologisnya belum jelas dimengerti. Rupanya beberapa faktor memegang peranan sebagai penyebab dismenorrea primer, antara lain:

Faktor kejiwaan: Pada gadis-gadis yang secara emosional tidak stabil,apalagi jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid,mudah timbul dismenorrea.

Faktor konstitusi: Faktor ini, yang erat hubungannya dengan faktor tersebut di atas, dapat juga menurunkan ketahanan terhadap ras nyeri. Faktor-faktor seperti anemia, penyakit menahun, dan sebagainya dapat mempengaruhi timbulnya dismenorrea.

Faktor obstruksi kanalis servikalis: Salah satu teori yang paling tua untuk menerangkan terjadinya dismenorrea primer ialah stenosis kanalis servikalis.Pada wanita dengan uterus dalam hiperantefleksi mungkin dapat terjadi stenosis kanalis servikalis, akan tetapi hal ini sekarang tidak di anggap sebagai faktor yang penting sebagai penyebab dismenorrea. Banyak wanita menderita dismenorrea tanpa stenosis servikalis dan tanpa uterus dalam hiperantefleksi. Sebaliknya, terdapat banyak wanita tanpa keluhan dismenorrea, walaupun ada stenosis servikalis dan uterus terletak dalam hi[erantefleksi atau hiperretofleksi. Mioma submukosum bertangkai atau polip endometrium dapat menyebabkan dismenorrea karena otot-otot uterus berkontraksi keras dalam usaha untuk mengeluarkan kelainan tersebut.

Faktor endokrin: Pda umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada dismenorrea primer disebabkan oleh kontraksi uterus yang berlebihan. Faktor endokrin mempuyai hubungan dengan soal tonus dan kontraktilitas otot usus. Novak dan Reynolds yang melakukan penelitian pada uterus kelinci berkesimpulan bahwa hormon estrogen merangsang kontraktilitas uterus, sedang hormon progesteron menghambat atau mencegahnya. Tetapi, teori ini tidak dapat menerangkan fakta mengapa tidak timbul ras nyeri pada perdarahan disfungsional anovulator, yang biasanya bersamaan dengan kadar estrogen yang berlebihan tanpa adanya progesteron.

Penjelasan lain diberikan oleh Clitheroe dan Pickles. Mereka menyatakan bahwa karena endometrium dalam fase sekresi memproduksi prostagladin F2 yang menyebabkan kontraksi otot-otot polos. Jika jumlah Prostagladin yang berlebihan dilepaskan ke dalam peredaran darah, maka selain dismenorrea, dijumpai pula efek umum, seperti diarea, nausea, muntah, flushing.

Faktor alergi: Teori ini di kemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara dismenorrea dengan yrtikaria, migraine atau asma bronkhiale. Smith menduga bahwa sebab alergi ialah toksin haid.

Penyelidikan dalam tahun-tahun terakhir menunjukan bahwa peningkatan kadar prostagladin memegang peranan penting dalam etiologi dismenorrea primer.

Kemudian satu jenis dismenorrea yang jarang terdapat ialah pada waktu haid tidak mengeluarkan endometrium dalam fragmen-fragmen kecil, melainkan dalam keseluruhannya. Pengeluaran tersebut disertai dengan ras nyeri kejang yang keras. Dismenorrea demikian itu dinamakan dismenorrea membranasea.

Keterangan yang lazim diberikan ialah bahwa korpus luteum mengeluarkan progesteron yang berlebihan, yang menyebabkan endometrium menjadi desidua yang tebal dan kompak decidual cast sehingga sukar dihancurkan.keadaan ini sukar untuk disembuhkan.

Beberapa faktor penyebab dari dismenore sekunder adalah:

– Endometriosis

– Fibroid

– Adenomiosis

– Peradangan tuba falopii

– Perlengketan abnormal antara organ di dalam perut.

– Pemakaian IUD.

Penanganan Dismenorrea

Penanganan pada dismenorrea primer,antara lain:

Penerangan dan nasihat,Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dismenorrea adalah gangguan yang tiadak berbahaya untuk kesehatan.hendaknya diadakan penjelasan dan diskusi mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan, dan lingkungan penderita. Kemungkinan salah informasi mengenai haid atau adanya tabu atau tahayul mengenai haid perlu dibicarakan.nasihat-nasihat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup , dan olahraga mungkin berguna.kadang- kadang diperlukan psikoterapi.

Pemberian obat analgesik, Dewasa ini banyak beredar obat-obat analgesik yang dapat diberikan sebagai terapi simtomatik. Jika rasa nyerinya berat,diperlukan istirahat di tempat tidur dan kompres panas pada perut bawah untuk mengurangi penderitaan. Obat analgesik yang sering diberikan adalah preparat kombinasi aspirin,fenasetin, dan kafein. Obat-obat paten yang beredar di pasaran ialah antara lain novalgin, ponstan, acet-aminophen dan sebagainya.

Terapi hormonal, Tujuan terapi hormonal ialah menekan ovulasi. Tindakan ini bersifat sementara dengan maksud untuk membuktikan bahwa gangguan benar-benar dismenorrea primer, atau untuk memungkinkan penderita melaksanakan pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan. Tujuan ini dapat dicapai dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontarasepsi.

Terapi denagn obat nonsteroid antiprostagladin, Memegang peranan yang makin penting terhadap dismenorrea primer. Termasuk di sini indometasin,ibuprofen, dan naproksen;dalam kurang lebih 70% penderita dapat disembuhkan atau mengalami banyak perbaikan. Hendaknya pengobatan diberikan sebelum haid mulai;1 sampai 3 hari sebelum haid, dan pada  hari pertama haid

Dilatasi kanalis servikalis, dapat memberikan keringanan karena memudahkan pengeluaran darah haid dan prostaglandin di dalamnya. Neuorektomi prasakral (pemotongan urat saraf sensorik antara uterus dan susunan saraf pusat) di tambah dengan neurektomi ovarial (pemotongan urat saraf sensorik yang ada di ligamentum infundibulum) merupakan tindakan terakhir, apabila usaha-usaha lain gagal.

Penanganan pada dismenorrea sekunder,antara lain:

– Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik umumnya akan memberikan petunjuk untuk penegakan diagnosis atau diagnosis itu sendiri pada pasien yang memiliki keluhan dismenore atau nyeri pelvis yang sifatnya kronis. Adanya pembesaran uterus yang asimetris atau tidak teratur menandakan suatu myoma atau tumor lainnya. Pembesaran uterus yang simetris kadang muncul pada kasus adenomyosis dan kadang terjadi pada kasus polyps intrauterin. Adanya nodul yang menyebabkan rasa nyeri pada bagian posterior dan keterbatasan gerakan uterus menandakan endometriosis. Gerakan uterus yang terbatas juga ditemukan pada kasus luka pelvis akibat adhesion atau inflamasi. Proses inflamasi kadang menyebabkan penebalan struktur adnexal. Penebalan ini terlihat jelas pada pemeriksaan fisik. Namun, pada beberapa kasus nyeri pelvis, pemeriksaan laparoskopi pada organ pelvis tetap dibutuhkan untuk melengkapi proses diagnosa (Smith, 2003).

–  Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi

Tes laboratorium pada pasien dismenore sekunder atau nyeri pelvis kronis sangat terbatas. Hitung jenis darah dapat membantu mengevaluasi akibat adanya pendarahan yang terus menerus. Laju enap darah dapat membantu mengidentifikasi adanya proses inflamasi, namun tidak spesifik. Tes radiologi umumnya terbatas untuk etiologi yang tidak berhubungan dengan gynecology, seperti pemeriksaan pada saluran pencernaan dan saluran kemih. Tes ultrasonografi pada pelvis memberikan manfaat yang besar karena memberikan gambaran adanya myoma, tumor adnexal atau tumor lainnya, dan lokasi pemakaian IUD(Smith, 2003).

– Manajemen terapi

Pengobatan untuk dismenore sekunder maupun nyeri pelvis kronis diarahkan untuk mengurangi dan menghilangkan faktor penyebabnya. Meskipun penggunaan analgetik, antispasmodik, dan pil KB dapat memberikan efek yang bermanfaat namun sifatnya hanya sementara. Hanya terapi spesifik yang bertujuan untuk menghilangkan penyebab yang pada akhirnya akan memberikan keberhasilan terapi. Terapi yang bersifat spesifik ini dapat berupa dari penghentian penggunaan IUD sampai dengan terapi menggunakan anti estrogen pada kasus endometriosis. Dapat juga terapi dengan pemindahan polip sampai dengan hysterectomy. Pada beberapa pasien dengan diagnosa tidak spesifik dimana pemberian terapi untuk meredakan keluhan nyeri tidak dapat mengurangi keluhan dan gejalanya, presacral neuroctomy dapat bermanfaat.

~ by iqvita on 6 June 2010.

4 Responses to “Dismenorrea”

  1. mba, ada daftar pustakanya g?
    saya juga butuh daftar pustakanya juga soalnya..
    klo ada kirim k anreaznahry@yahoo.co.id yah..
    trima kasih sebelumnya..

  2. daftar pstakanya d cntumkan donks.

  3. yang mnrt WHO da gk mb??

  4. Molekul transfer factor yg merupakan bagian dari immune system juga dapat menyembuhkan dismmenorrea, baik primer maupun sekunder

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: